[CERPEN] Apa Cinta Jaka? (Gusti Eldo Wiranda)
Pukul enam pagi, ketika seorang siswa kelas 12 turun dari motornya di parkiran sekolah. Ia memandangi sekitar sembari membuka helmnya. Setelah helmnya terbuka, ia menampilkan dirinya didepan kaca spion motornya untuk merapihkan sedikit rambutnya. Orang-orang akan melihatnya sebagai tipikal remaja kontemporer, dengan celana pensil potong di atas mata kaki, gesper kulit dan baju yang dikecilkan dengan lengan seragamnya yang digulung satu kali. Kalaupun mengenakan kacamata untuk membantu matanya yang minus itu, ia akan menggunakan kacamata bulat, simbol "keren" untuk remaja kontemporer. Sesekali selain mengenakan jam tangan, ia juga mengenakan gelang setidaknya agar tangannya tidak begitu polos. Di dada kanannya, terjahit papan nama terbacakan "JAKA" dengan jarak yang sedikit panjang antar abjadnya.
Ia sadar bahwa pakaian yang di kenakannya bersebrangan dengan
apa yang ditulis dalam aturan sekolah, tapi dia melakukannya agar sejalur
dengan tren mode yang ada. Sekaligus, ia menilai, tren mode seperti itu lebih
menarik perhatian orang-orang, baik di dalam sekolah maupun diluar sekolah. Lagipula,
anak mana yang tidak suka ketika dipuji oleh orang-orang disekitarnya? Serta,
yang paling penting, mendapat pengakuan atas dirinya sendiri sebagai orang yang
"keren" di matanya sendiri.
Jaka berjalan mejauhi motornya. Ia merogoh saku dadanya
berisikan beberapa recehan untuk bayar parkir. Recehan itu diserahkannya kepada
penjaga parkiran. Berjalan tak begitu jauh, ia sampai didepan gerbang sekolah.
Sekolah masih sepi, karena ketika ia sampai jam masih menunjukan pukul 5:50.
Hanya ada penjaga sekolah yang membersihkan lapangan dari dedaunan pohon yang
berguguran.
Pukul 5:50 adalah waktu yang ideal bagi Jaka untuk datang ke
sekolah, sebab sekolah masih sepi. Kelas yang masih dingin, dan tentu saja kosong, dapat dimanfaatkan
Jaka untuk mengerjakan tugas yang belum sempat dikerjakannya atau, jika tidak
ada tugas untuk dikerjakan, sekedar membaca Novel.
Ia melarutkan diri pada Novelnya. Dua bab dihabiskannya kira-kira dalam waktu satu jam. Tak terasa kelas sudah diisi dengan orang-orangnya.
Orang-orang yang sudah datang juga telah melarutkan dirinya
kedalam aktivitasnya masing-masing. Beberapa orang fokus pada HP-nya
masing-masing dan tenggelam kedalam permainan online mereka. Beberapa
orang lainnya membuka HP mereka untuk sekedar membalas pesan singkat yang
datang malam sebelumnya. Sementara itu satu barisan yang mayoritasnya wanita seru
membahas desas-desus terkini.
Teman sebangku Jaka, Nino, juga telah menduduki kursinya dan memulai
sebuah perbincangan kecil dengan Jaka. Mereka menjadi sejoli yang tak
terpisahkan semenjak pertemuan pertama mereka saat hari-hari pertama masuk SMA.
"Kau tahu gadis bernama Friya dari kelas sebelah?"
Buka Nino, sambil meletakan tas hitamnya dikursi.
"Yang dari Bali itu?" Tanya balik Jaka, alisnya
dipicingkan sebelah. Novelnya ia tutup untuk sementara untuk membalas pertanyaan
Nino.
"Ya! Aku mendengar kabar burung bahwa Machfud sudah putus
dengannya."
"Benarkah? Itu begitu..." Belum selesai dengan kata-katanya,
kalimat Jaka dipotong oleh antusiasme Nino.
"Tentu saja! Yang aku dengar, Machfud tertangkap basah
selingkuh dibelakang sekolah."
"... Itu begitu cepat. Mengingat Friya baru dua bulan
ada disekolah ini, dan segera menyudahi hubungannya dengan Machfud yang
dijalinnya sejak awal dia masuk ke sekolah ini." Maksud Jaka melanjutkan
kalimatnya yang terpotong tadi. Kemudian ia menanggapi penyataan Nino.
"Itu benar." Jawab Nino. Percakapan mereka hening
untuk sesaat. Nino melihat jam tangannya. "Pukul tujuh lewat lima."
Seharusnya itu adalah waktu mata pelajaran Sejarah. Namun melihat pada pukul
tujuh belum ada guru yang masuk, Nino mengajak Jaka untuk pergi keluar kelas,
sekedar menghirup udara segar.
Tepat diluar kelas, mereka berdua langsung dapat melihat
orang-orang yang sedang berolah raga di lapangan. Ada Friya diantara kerumunan
orang-orang itu. Kelas mereka berada di lantai dua, sehingga mereka dapat
dengan mudah melihat kearah lapangan dengan jelas.
"Panjang umur!" Saut Jaka lantas menyandarkan
dirinya di balkon besi didepan kelas. Sambil memandangi aktivitas di lapangan.
"Kau sama dia saja, Jak" Ucap Nino iseng, hanya dibalas
tatapan sebentar dan muka datar oleh Jaka, tanpa satu kata keluar. Ia juga ikut
menyandarkan diri pada balkon menyebelahi Jaka.
"Aku punya kontaknya. Akan kubagikan kepadamu sekarang."
Kata Nino. Jaka memandang Nino lagi.
"Kalaupun aku mengontaknha, aku tidak akan serius
dengannya."
"Kau miris sekali. Aku saja sudah, masa kamu belum?"
Tanya Nino heran.
"Aku sedang tidak ingin saja. Aku hanya akan menganggapnya
sebagai angin lewat."
Niat Jaka hanya iseng mengirimi pesan kepada Friya. Jaka
mengakui paras gadis itu bukan main jelitanya. Dari segi lekuk tubuh pun sesuai
dengan kriteria ideal bagi Jaka. Untuk saat ini Jaka sedang tidak ingin bermain
wanita karena lain banyak hal. Jaka hanya akan menganggap Friya sebagai kenalan
baru dalam hidupnya. Orang yang sekedar lewat untuk beberapa saat. Namun untuk sekarang,
Jaka belum mengetahui apa yang ia akan temukan nanti.
"Asik juga orang ini." Untuk beberapa hari mereka terus
bercakap satu sama lain pada layar handphone
masing-masing. Hingga pada suatu saat kalimat dalam tanda kutip itu terbesit
dalam hati Jaka. Awalnya hanya membicarakan hal sekitar sekolah, namun
lama-kelamaan topik pembicaraannya bergeser menjadi hal-hal personal. Itu
terjadi begitu saja. Seolah-olah, dua pikiran menjadi satu karena intensifitas
percakapan mereka. Pembicaraan mereka begitu menggembirakan bagi satu sama lainnya.
Selama satu minggu, entah apa yang terjadi, Jaka merasa makin
hari makin candu obrolan bersamanya. Saban hari, mereka bertemu secara langsung
di kantin sekolahan dan berbincang sedikit atas keadaan terkini ataupun berbincang
kembali mengenai apa telah mereka ketahui malam sebelumnya. Kadangkala pula, Jaka
bertemu Friya di depan gerbang sekolah membicarakan senang tidaknya mereka di
sekolah hari itu sembari menunggu Friya dijemput. Perbincangan-perbincangan
itulah yang menguatkan hubungan mereka secara intim. Dari beberapa perbincangan
itu, Jaka dapat mengetahui kondisi hati Friya yang sebetulnya. Benar perkataan Jaka,
bahwa Friya masih belum stabil hatinya karena Machfud. Namun apa yang bisa
dilakukan Jaka? Perlu diketahui Jaka tidaklah dekat dengan Machfud—walaupun
satu sekolah. Untuk sekarang, Jaka hanya bisa memberi saran-saran kehidupan layaknya
filsuf pada zaman dahulu.
Dua atau tiga kali mereka pernah jalan bersama. Entah ke mal
ataupun bioskop. "Namanya juga anak muda." Orang bilang. Hubungan
dekat mereka itu sampai diketahui oleh teman-teman satu sekolahnya. Sebab, pada
suatu waktu Jaka dan Friya jalan bersama, mereka kepergok nonton bioskop
bersama. Saat itu Jaka mengenakan kemeja flanel kotak-kotak celana panjang hijau
zaitun. Kemeja merahnya melapisi kaus putih dua ratus lima puluh ribu yang
dibelinya di Jogja. Sementara itu Friya mengenakan kaus coklat ditutupi oleh sweater
berwarna krem celana jeans kelabu klasik. Tubuh tinggi tegap Jaka mudah dilihat
dari jarak jauh bagi orang-orang yang mengenalnya. Ketika kepergok oleh teman
satu sekolahnya, Jaka dan Friya hanya bisa membuang malu mereka dengan melihat
langit-langit bioskop.
Dengan kecanduannya terhadap Friya semakin menjadi-jadi, Jaka
harus yakin pada pendirian awalnya bahwa Friya dianggapnya sebagai angin lewat.
Ia tak boleh goyah jikalau hatinya tiba-tiba jatuh kepada Friya. Jika pada satu
saat ia merasa terlalu gembira dan girang mengobrol dengannya, cepat-cepat Jaka
mengalihkan rasa gembira dan girangnya itu ke arah lain, supaya ia lupa bahwa
ia gembira dengan Friya. Jaka mengalihkan dirinya agar tidak jatuh ke hubungan
yang dalam dengan Friya.
Malang, dengan sifat candu dan rasa gembiranya setiap bertemu
dengan Friya, pada satu titik Jaka menyimpulkan bahwa ia telah jatuh cinta kepada
Friya. Anggapannya itu—seperti yang dijelaskan diatas—cepat-cepat ia hilangkan
dari pikirannya. Untuk waktu-waktu setelahnya, Jaka sedikit menjauh dari Friya.
Jaka kadang berpaling ketika mereka bertemu, misalnya di kantin, atau di depan
gerbang sepulang sekolah.
Tentu itu menimbulkan bingung pada Friya. Setelah 4 bulan 3
minggu mereka berkawan, tiada angin tiada hujan, Jaka menghindar dari Friya. Tanpa
Friya ketahui, Jaka melakukan itu dengan berat hati agar dirinya tidak terjun
bebas kedalam lautan cinta. Pikirnya, terjun kedalam lautan cinta berarti harus
berenang susah payah agar bisa menggapai harta karun di lautan dalam, entah itu
dalam waktu lama atau singkat. Dalam perjalanan menggapai harta karun itu, bisa
saja seseorang mengalami kegagalan. Juga, ketika berhasil menggapi harta
terpendam itu, belum tentu apa yang didapatkan sesuai dengan harapan. Seseorang
hanya mendengar berita atau melihat bahwa disuatu tempat ada kotak harta karun
terpendam, tanpa mengetahui lebih detail apa sebenarnya isi dari kotak yang
disebut-sebut harta karun itu. Perumpamaan inilah yang membuat Jaka agak
was-was terhadap hubungan dengan orang lain.
Dipikir-pikir oleh Jaka, kurang etis jika seseorang
meninggalkan suatu hubungan secara tiba-tiba. Maka dari itu, Jaka kembali
mendekati, Friya dimulai dengan mengajaknya berbincang sedikit jika Friya
sedang berada di balkon depan kelas. Perbincangan mereka tidaklah sebaik dahulu.
Obrolan mereka sukar untuk lancar. Percakapan mereka beberapa kali mandeg pada
tiap topik pembicaraan.
Di kantin saat istirahat, Jaka melihat Friya sedang
berbincang dengan Machfud. Mereka duduk berdua pada satu meja kantin.
Hadap-hadapan. Saat itu juga, api cemburu muncul pada Jaka. Ia sekilas melihat
kenyataan bahwa dirinya bukanlah apa-apa namun kumpulan debu.
Esoknya, ketika pulang sekolah di depan gerbang, Jaka tidak melihat adanya Friya yang menunggu penjemputnya.
Tiba-tiba, dari ujung jalan terlihat raut bahagia Machfud mengendarai motornya dengan
boncengan gadis. Gadis itu adalah Friya, terlihat sekilas ketika mereka berdua melewati
Jaka. Mereka terlihat bahagia. Tampang cengengesan mereka seperti sehabis
merespon suatu komedi.
Dari kabar yang didengar, memang benar bahwa mereka sedang
dekat kembali. Itu diperkuat ketika Jaka melihat Friya dan Machfud bergandengan
tangan ketika berjalan kearah kantin. Bahkan, Friya dan Machfud pernah di duduk
bersebelahan di bawah balkon depan kelas, keduanya duduk bersila menyenderkan punggung
mereka pada tembok pemisah kelas dan lorong balkon. Sementara Friya juga menyenderkan
dirinya pada bahu Machfud, mereka mungkin bercerita baik-buruk bahagia-sedih hari
itu. Kemudian Machfud bangkit sambil menggenggam tangan Friya. Machfud
mengucapkan suatu prosa kemudian menyatakan bahwa ia cinta dengan Friya.
"Lihat apa yang kau perbuat." Katanya terhadap dirinya
sendiri. "Kau telah berenang terlalu dalam."
Kini Jaka benar-benar sadar bahwa dirinya telah jatuh kedalam
hati Friya. Kecemburuannya itu adalah tandanya. Jaka tak bisa lagi berpaling
darinya. Baik cemburu maupun rasa cintanya itu sukar di buang jauh-jauh.
Putus asa, Jaka lesu dengan apa yang terjadi dengannya.
Inilah hal yang ditakutkannya ketika jatuh cinta. Bisa-bisa tenggelam selamanya
dan menimbulkan luka yang sukar disembuhkan. Semuanya menjadi sesak karena itu.
Sulit lagi untuk berenang kembali ke permukaan menghirup udara segar dan
melanjutkan perjalanan diatas permukaan bumi. Untuk sekarang, jiwanya yang
remuk melihat pasangan itu berlabuh kembali, sementara itu dirinya tenggelam
dalam lautan dengki penuh sesak. Dengki karena dirinya tak mampu berbuat
seperti Machfud, dan kini Machfud kembali bersama Friya.
Jaka pulang ke rumahnya diliputi oleh rasa dengki, sedih, dan
gusar yang bercampur aduk. Sesekali timbul rasa dendam untuk semua orang.
Kepada yang telah telah mengenalkannya dengan gadis itu, atau kepada orang yang
kembali mencintai gadis itu, atau kepada dirinya sendiri karena merasa begitu
lemah digoyahkan oleh semunya cinta.
Jaka berhenti di lampu merah sebuah persimpangan. Tiba-tiba
datang dengan cepat orang dari belakangnya yang membagikan pamflet kepada beberapa
pengendara yang berhenti. Tibalah gilirannya Jaka mendapatkan pamflet berkertas
koran warna hijau itu. Pada pamflet itu bertuliskan: "Konsultasi
Alternatif Untuk Masalah Hidup Anda. Kunjungi Ibu Marni di Jalan Sawo nomor 44."
"Lokasinya tak jauh dari rumahku." Bilang Jaka
dalam dirinya.
Beberapa pengendara langsung membuang kertas itu. Beberapa
ada yang menolaknya secara langsung. Seperti tidak percaya akan hal-hal berbau "alternatif".
Tidak dengan Jaka, ia melipat dan mengantongi pamflet itu
agar dibaca dirumah.
Jaka menoleh mencari orang yang membagikan pamflet ini tapi
tidak menemukannya. Mungkin hilang diantara kumpulan mobil dan motor dipersimpangan
ini.
Ia melanjutkan perjalanan sementara isi pikirannya terpaut
pada pamflet itu. Mungkin pikirannya juga menganjurkannya untuk mendatangi tempat
konsultasi itu.
***
"Halo Jak! Gimana kau?" Saut Nino dalam telfon. Jaka
yang masih gusar ternyata membiarkan dirinya mengangkat telfon dari temannya
itu.
"Biasa saja." Jawab Jaka bernada datar.
Sebetulnya, Jaka memiliki sedikit rasa kesal terhadap Nino.
Sebab ia telah mengenalkannya kepada Jaka, kemudian Jaka jatuh hati kepada
Friya, dan sekarang justru patah hati karenanya.
Rembet demi rembet, Jaka akhirnya mengakui kepada Nino, bahwa
ia telah jatuh cinta kepada Friya. Hal itu merusak mental Jaka. Karena jika
ditelusuri, sejak awal Jaka mengontak Friya, pikiran Jaka selalu melayang terhadap
Friya, tak peduli apa yang dilakukannya. Itu adalah tanda akhir bahwa Jaka tenggelam
kedalam hati Friya—walaupun Jaka bersikeras tidak akan jatuh cinta. Sekarang ketika
mengetahui bahwa Friya dan Machfud dekat kembali, itu menimbulkan cemburu pada Jaka.
Hari-hari berikutnya di sekolah, Jaka tidak pergi kemana-mana
selain menetap di kelasnya. Meratapi semunya hal yang ia jalani sekarang, cinta
namaya.
"Sialan!"
"Omong kosong!"
"Bangsat!"
"Freak!"
Ketiga kata itu sering melewati pikiran Jaka. Selalu ia
salahkan dirinya atas apa yang menimpa dirinya. Sebab ia sendiri sadar bahwa ia
dirinya lah yang membuat dirinya menjadi seperti sekarang.
Satu saat, Jaka keluar dari kelasnya untuk menghirup udara
segar. Pendingin udara di kelasnya mati. Keadaan kelas sungguh sesak, namun sesak
fisik tidaklah sesesak yang ada pada batinnya. Sesak yang dibakar cemburu.
Ketika meratapi langit di pinggir balkon depan kelas, Jaka
dikejutkan oleh suara Friya tepat di sampingnya.
"Hey Jak!" Kata Friya riang. Jaka hanya menatapnya
heran. Kemarin, Friya tidaklah seriang itu kepadanya.
"Sedang lihat apa? Burung berkicau riang di pagi
hari?" Lanjut Friya kepada Jaka.
"Bukan apa-apa." Sebut Jaka datar. Jantungnya berdebar-debar
karena sambutan dari Friya!
"Ah jangan bohong!"
"Tidak!" Tentang Jaka. "Machfud mana?" Tanya
Jaka tiba-tiba, Jaka masih ambigu karena sifat Friya yang berbeda.
"Biarkan saja orang itu! Dia bukan apa-apa bagiku!"
Tentang Friya.
"Tapi, bukannya kemarin kalian mesra di bawah balkon ini?
Bukannya kamu kembali bersamanya?"
"Kapan? Mana mungkin aku bersama dia! Aku tidak pernah
dekat dengannya juga!" Situasi semakin aneh di mata Jaka. Awalnya Friya—ataupun
Jaka—menjauhi satu sama lain. Namun sekarang, Friya tiba-tiba datang kepada
Jaka.
Dalam hatinya, Jaka bertanya "Apa mungkin karena
konsultasi alternatif beberapa hari yang lalu?" Ia ingat menceritakan
masalahnya kepada dukun yang ada disana. Tidak hanya memberikan
wejangan-wejangan khas Jawa, dukun itu juga nampaknya menyebutkan beberapa jampi-jampi.
Jaka ingat ketika mulut dukun itu komat-kamit menyebutkan sebutah-sebutan yang tak
diketahui Jaka sedikitpun, lalu menyipratkan entah campuran air apa ke mukanya.
"Mungkin bagian dari tradisi Jawa." Pikirnya ketika dukun itu
menyipratkan air ke mukanya.
Sementara Friya terus bersenda-gurau dengan Jaka, ia masih
tidak percaya dengan apa yang dilakukan dukun itu berhasil dengan bayaran empat
ratus ribu. Padahal, Jaka tidak benar-benar menginginkan agar Friya berpaling
kepada Jaka. Jaka menduga konsultasi alternatif seharga empat ratus ribu tidaklah
jauh berbeda dengan konsultasi psikologi dengan harga yang sama. Ia pikir, ia
hanya akan diberi nasihat atau wejangan biasa.
Hingga sekolah berakhir, hari itu Jaka tidak melihat Machfud
sama sekali. Ia menanyai teman-temannya dimana Machfud berada.
"Jatuh sakit. Katanya perutnya kepanasan." Ucap
seorang teman Jaka yang juga teman Machfud. Jaka pikir, itu juga adalah dampak
dari jampi-jampi dari dukun yang ia temui beberapa hari yang lalu. Ada sedikit
rasa senang dalam dirinya. Tak percuma uang empat ratus ribu melayang semua
untuk ini.
***
"Antar aku pulang, Jak!" Kata Friya sepulang
sekolah. Jaka kebetulan berpapasan dengannya ketika menuruni tangga setelah
sekolah baru saja bubar. Ia mengambil kesempatan itu dengan mengiyakan ajakan
Friya. Jaka pikir, dengan begitu ia dapat mebiarkan hatinya terbuka kembali
untuk Friya.
Bukan main jampi-jampi dari dukun itu. Dalam perjalanan
menuju rumah Friya, Friya benar-benar terbuka dan berbicara hal-hal menyenangkan
dengan Jaka. Friya, yang awalnya dekat kemudian menjadi asing, kini dekat kembali
dengan Jaka. Tapi terbesit dalam hati Jaka bahwa Friya seperti ini bukan karena
dirinya sendiri, tapi dengan bantuan dukun yang ia temui beberapa hari lalu dan
mungkin dengan bantuan setan entah di alam mana. "Tak apalah"
pikirnya, "Yang penting bersama Friya!" Katanya dalam dirinya tak henti-henti.
Bukanlah masalah seperti apa Friya sekarang, yang terpenting
bagi Jaka adalah bahwa kini ia bersama Friya kembali. Jaka membuka hatinya dan
menerima kenyataan bahwa ia mencintai Friya. Bahwa ia mencintai lekuk fisik dan
tampangnya. Tak ada penolakan batin yang bodoh dalam pikiran Jaka. Friya juga
nampaknya bahagia dengan Jaka, terlihat ketika mereka dalam perjalanan. Jaka
tak peduli lagi dengan masa lalu dan anggapan konyolnya mengenai tenggelam
dalam lautan cinta.
Beberapa waktu perjalanan, mereka sampai di rumah Friya.
"Ayo masuk! Tak ada siapa-siapa dirumah!" Memang menyenangkan
bersenda-gurau di perjalanan menuju rumah Friya. Sekarang lebih menyenangkan lagi
diundang masuk kerumah seorang wanita. Jaka segera memarkirkan motornya dengan
rapih. Setelah melepaskan helmnya, ia langsung ditarik masuk dengan cepat oleh
Friya. Jaka pikir, ini akan mempererat hubungan mereka. Ia pikir, ia hanya akan
bercakap santai dan sedikit bersenda gurau di ruang tamu, tapi Friya membawanya
lebih jauh ke lantai atas dan memasuki sebuah kamar. Pintu kamar itu Friya tutup
rapat-rapat. Jendela dan gorden ia tutup rapat-rapat. Radio diatas meja ia nyalakan
keras. Air keran di kamar mandi yang ada di kamar ia buka lebar-lebar. Sunyi dari
luar namun ramai di dalam.
Keduanya kini berada dalan satu ruangan, bertatapan. Jantung
Jaka berdegup cepat. Kaget, senang, dan bahagia menjadi satu dengan Jaka. Masih
terdiam, Jaka mulai menggenggam tangan lembut Friya. Gelagak tawa setan mungkin
bisa di dengar di alam lain. Pada akhirnya bukanlah hati yang Jaka inginkan,
namun gairah!
Hawa nafsunya memperkosa prinsip hidupnya!
Sekarang Jaka mati tenggelam. Mati tenggelam dalam lautan cinta
buta. Keangkuhan dalam egonya memakan puas setiap akal sehat dan nuraninya. Tak
peduli pada masa lalunya, prinsip hidup, akal sehat, dan nuraninya sekarat
menuju mati. Biarlah hawa nafsu yang menguasai Jaka, asal Jaka senang. Akal telah
hilang. Setan menyusup manusia. Manusia menjadi setan. Jaka menjadi setan!
Komentar
Posting Komentar